Cerita Terbaru : Ruang Ganti Kolam Renang

Oleh Master Bokep Pada 05 Januari 2015 - 16:45


Skip to News Feed Facebook Cerita Dewasa Foto Bugil Tante Girang Home Notifications Messages Notifications Account Settings English (US)· Privacy · Terms · Cookies · Advertising · More Facebook © 2015 News Feed Cerita Sex November 23, 2014· Sarah, Aku Pengganti Istri Anakku Sejak kematian menantuku, Lina, anakku Dodi menjadi duda. Dia tinggal di rumahku, dengan membawa anaknya yang berusia 6 tahun. Kebetulan sekali putri tunggalnya itu begitu dekat denganku. Dodi pun seperti kehilangan semangat untuk melakukan apa saja. Setelah mengantar anaknya ke sekolah, dia langsung pulang ke rumah tak mau lagi mengerjakan apa pun juga. Aku sudah lelah menyemangatinya. Aku mengakui, kalau Lina orangnya sangat baik dan cantik. Pantas kalau Dodi anakku sangat kehilangan dirinya. Oh iya Perkenalkan namaku Sarah, Umur 42 tahun. Ukuran Bra 36D. "Sudahlah, Dod. Semua sudah ditakdirkan oleh Tuhan," kataku menenangkan jiwanya. Aku menyuruhnya untuk menikah lagi, Tapi Dodi yang kini sudah berusia 25 tahun itu, tak mau menikah. Takut anaknya punya ibu tiri dan tak dapat menerima anaknya. Aku mengalah. Tapi aku tak sampai hati melihatnya selalu uring-uringan. Selalu termenung. Mungkin inilah kesalahanku. Aku mendekatinya, dengan maksud agar dia tetap hidup semangat menghadapi semua ini. Jika pagi, kami selalu berdua di rumah. Dua anakku yang lain sedang bekerja dan kuliah. Sementara suamiku sudah lebih dulu meninggal dunia, 5 tahun lalu. Aku hidup dari deposito suamiku dan dari hasil sewa tanah dan sewa 7 buah toko di pusat perbelanjaan mewah, serta sewa beberapa hektar sawah di kampung. Seusai mandi, aku memakai kimonoku, tanpa apa pun yang melapisinya di dalam kimonoku. Itu biasa kulakukan, karena di rumah tak ada yang melihat. Aku berjemur di atas kursi malas di halaman belakang yang dipagari tinggi pada sebuah taman kecil. Tiba-tiba Dodi datang dengan melilitkan handuk di tubuhnya. Dia juga baru usai mandi. Dia mendatangiku dan menyeruput kopi panas yang tersedia di meja kecil dekat kursi malasku. Aku meraih tengkuknya dan mencium pipinya dengan kasih sayang, agar dia tetap semangat. Entah apa yang dipijaknya, Dodi terpeleset, hingga menimpa tubuhku dari atas. Saat itu aku sangat terkejut, Dodi mencium bibirku dengan lembut. "Mama cantik sekali," katanya lembut di telingaku. Lalu dia mengecup kembali bibirku dan menjulurkan lidahnya. "Dodi... Kenapa mencium bibir mama, sayang?" balasku dengan lembut pula. Dodi tersenyum. Dan berulang-ulang mengatakan, aku cantik. Ia mencium kembali bibirku dan mengelus rambutku. "Jangan, Dod... mama risih," kataku. Aku berharap, Dodi menghentikan perlakuannya. Tapi malah sebaliknya, bibirku dikecupnya kembali dan sebelah tangannya menelusup di belahan kimono-ku dan mengelus buah dadaku. "Dodi!" kataku membentak. Dodi tersenyum. "Kenapa, Ma? Aku menyayangi Mama." "Tapi..." Kembali Dodi mencium bibirku dan memelukku erat sembari terus mengelus-elus buah dadaku. Aku ingin melawan, tapi sudah terlambat. Tali kimonoku sudah terlepas. Demikian juga handuk yang melilit tubuh Dodi sudah terbuang entah kemana. Kini bukan bibirku lagi yang dikecupnya, tapi buah dadaku sebelah, sudah berada dalam kulumannya dan sebelah dia remas. Aku berusaha menolak tubuhnya yang kekar itu. Sia-sia saja. Sebelah tangannya sudah menelusup mengelus vaginaku dan satu jarinya sudah memasuki lubang vaginaku. "Dodi... Kamu ini..." Saat itu mulutnya yang berada di tetekku, sudah berpindah ke mulutku dan Dodi mempermainkan lidahnya dalam mulutku. Aku ditindihnya dari atas. Aku dikangkangkannya. Aku melawan sekuat tenagaku. Tapi aku mau bilang apa lagi, penisnya sudah berada dalam lubang vaginaku. Blesss! Penisnya masuk ke dalam vaginaku. "Dodi... Aku ini ibumu, nak! Bagaimana ini?" Dodi terus menekan penisnya ke dalam vaginaku. Makin dalam dan makin dalam sampai ke ujung yang paling jauh dalam vaginaku. Setelah semuanya berada dalam vaginaku, Dodi terus menjilati leherku, telingaku dan meremas-remas tetekku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Jujur saja, lama kelamaan aku menikmatinya juga. Sudah lima tahun lebih aku tidak merasakan penis berada dalam liang vaginaku. "Dodi, jangan, nak! Aku ibumu!" hanya itu yang bisa kukatakan. Dodi justru semakin buas dan terus memompaku dari atas tubuhku. "Mama... mama cantik sekali. Aku tak mau menikah lagi... Mama sudah ada. Semuanya sudah terpenuhi, Ma." katanya sembari terus memompa tubuhku. "Tidak, Dodi... aku mamamu, sayang..." kataku terbata-bata dan tanpa sadar aku sudah memeluknya juga. "Aku tak mau menikah lagi, Ma. Mama segalanya bagiku," katanya pula. "Jangan, Dodi... nanti ketahuan." kataku. "Kita harus pandai merahasiakannya, Ma." jawab Dodi, sembari terus menggenjotku dari atas. "Tapi..." "Ya, kita harus pandai menjaga rahasia ini, Ma," jawabnya. Dodi terus menggenjot tubuhku dan aku tak mungkin berkata-kata lagi, karena aku sudah berada di puncak nikmat. "Dodi... mama sudah mau sampai, nak. Cepatlah!" kataku tak sadar. Mungkin ini pula kesalahanku yang kedua. Dodi menggenjotku dengan lebih cepat, sampai aku memeluknya sekuat tenagaku dan menahan nafasku pada puncak kenikmatanku. Dodi menekan kuat penisnya ke dalam lubangku sembari memelukku kuat sekali. Aku merasakan tembakan spermanya berkali-kali dalam vaginaku. Aku juga melepas nikmatku sampai aku rasanya kehilangan nafasku. Kami terkulai sejenak. Kami melepas nafas kami yang memburu. Penis Dodi keluar dari vaginaku. Nafas kami sudah normal. Dodi membopongku ke kamar mandi dan menceboki vaginaku, lalu dia mencuci penisnya. Setelah Dodi melap vaginaku dan penisnya, dia mengecup bibirku dengan lembut. "Aku mencintaimu, Ma... Aku mencintaimu!" Aku tak bisa menjawab apa-apa. Lalu Dodi membopongku kembali ke taman belakang rumah dan meletakkan aku kembali di atas kursi malam yang terbuat dari kayu jati. Dia pakaikan kimonoku, lalu dia melilitkan handuk pada pinggangnya dan kami menyeruput segelas kopi bergantian. "Kenapa ini bisa terjadi, Do?" tanyaku seperti menyesal. "Karena aku mencintai mama. Aku yang salah, Ma. Tapi izinkan aku mencintaimu seumur hidupku," katanya. "Tapi bukan begitu caranya, sayang." "Inilah cara terbaik buatku, Ma. Izinkan aku terus melakukan ini," katanya sembari mengecup bibirku dengan lembut. Kepalaku dibelai-belainya. Aku diperlakukannya seperti anak kecil, seperti cucu anakku sendiri. Kini Dodi sudah duduk di tepi kursi malasku. Dia terus mengelus-elus kepalaku dan terus memuji kecantikanku.Tangannya mengelus tetekku dan sesekali mengecup pentil tetekku. "Dodi, jangan ah. Nanti mama nafsu lagi. Mama sudah tua," kataku. Kata nafsu lagi membuatku menyesal, karena memang itu yang kutakutkan, aku takut bernafsu lagi. Dulu aku memang pantang disentuh suamiku, aku lantas meminta untuk disetubuhi. "Gak apa-apa, Ma. Untuk mama, aku akan siap terus melayani," katanya. Dodi mengelus-elus perutku, terus ke bawah. Kini tangannya sudah mengelus-elus bulu vaginaku. Sesekali dia menyentuh klitorisku. "Dodi... ah! Ntar mama jadi mau lagi. Kita tak boleh melakukan ini. Jangan, sayang!" kataku. "Akan aku lakukan, Ma!" katanya sembari terus mengulum bibirku dan mempermainkan lidahnya. Lidah kami sudah berkaitan dan tanpa sadar, aku memegang penisnya yang sudah mengeras. Besar dan panjang. Lebih besar dan lebih panjang serta lebih keras dari milik almarhum suamiku. Dodi turun dari kursi malasku. Dia berada di antara kedua pahaku lalu menjilati vaginaku. Hal yang belum pernah aku rasakan. Aku protes, tapi terlanjur. Dodi sudah menjilati klitorisku. Benar-benar aku merasakan sesuatu yang baru dan sangat nikmat. Aku sudah tak mampu menahan nikmatku. Aku menjepit kepala Dodi dengan kuat dengan kedua pahaku. Aku menjambak rambutnya. ”Dodiiii...!!!” hanya itu yang keluar dari mulutku, sampai jepitanku mengendur, karena aku sudah merasakan nikmatku. "Sudah, Dodi, mama sudah sampai dan sudah tak tahan lagi," kataku. Saat itu pula Dodi justru memasukkan penisnya yang besar itu ke dalam vaginaku dan menekannya sampai amblas. Dodi membiarkan penisnya di dalam vaginaku tanpa mengerak-gerakkannya. Rambutku dielus-elusnya sampai nafasku kembali tenang dan normal. Perlahan Dodi menarik penisnya dan memompanya kembali secara perlahan berulang-ulang dan berulang. Setelah lima menit demikian, aku kembali bernafsu dan memberinya respons. Dodi pun memberikan pompaan yang lebih agressif lagi. Kami saling merespons. Saling memeluk, saling mengecup dan saling membelai. Sampai akhirnya, aku meminta Dodi untuk mempercepat kocokan penisnya dalam vaginaku dan aku memeluknya. Dodi mempercepat kocokan penisnya dan memelukku dengan kuat juga, sampai kami sama-sama berteriak kecil penuh nikmat. "Maaaa...." "Ukhhh... sayaaaanngg..." Dan kami sama-sama melepaskan nikmat kami yang tak dapat digambarkan dengan apa-saja. Kami saling berpandangan dan bertatapan dengan penuh mesra. "Dodi, kamu jangan sampai bercerita pada siapapun," kataku. Dodi hanya tersenyum dan mengecup bibirku dengan lembut dan penuh kasih sayang. *** Setelah kejadian itu, aku melihat Dodi semakin bersemangat hidupnya. Dia semakin menyayangiku. Jika kami berdua di rumah, Dodi selalu memanggilku sayang. Dodi sudah mulai keluar rumah mencari pekerjaan. Justru kini aku yang kesepian. Gila! Kenapa ini bisa terjadi? Aku membutuhkan Dodi, anakku. Membutuhkan belaiannya. Saat aku menyiapkan masakan untuk makan siang, justru aku gelisah. Aku ingin dibelai. Tapi haruskah Dodi lagi yang membelaiku? Kalau bukan dia, terus siapa? Haruskah aku mencari laki-laki yang iseng? Belum tentu aku mendapatkan kepuasan dan kasih sayang seperti yang diberikan oleh Dodi. Cepat aku mengambil HP. Aku pencet nomornya dan... nyambung! "Ada apa, Ma?" "Cepat pulang dong, sayang. Mama rindu..." kataku. Dadaku begetar ketika menutup HP. Salahkah aku mengatakan kepada Dodi kalau aku merindukannya? Salahkah aku? Nampaknya aku sudah tak perduli lagi. Sudah lima tahun aku tak merasakan sentuhan laki-laki dalam usiaku 42 tahun ini. Aku sudah siap dengan segalanya. Aku sudah memakai kimono tanpa pakaian apapun di dalamnya. Kue dan dua gelas kopi susu panas sudah kusiapkan di halaman belakang. Aku menyiapkan segalanya. Kursi malasku sudah kuratakan. Aku sudah melapisinya dengan selimut tebal, agar sedikit lebih lembut dan sedikit lebih mesra. Saat aku membenahinya, aku mendengar suara bel berbunyi. Cepat aku keluar. Aku yakin, yang memencet bel itu adalah Dodi, anakku. Benar saja, Dodi sudah berada di ambang pintu. Gerbang sudah dikunci dan sepeda motor langsung dimasukkan ke dalam rumah, bukan ke garasi. Dia tersenyum. Manis sekali senyumnya. "Ma, aku juga sudah rindu sama mama. Aku ingin seperti dua hari lalu," katanya menggandeng tanganku. Aku membawanya ke belakang rumah, taman yang asri dan teduh. Dengan cepat dia menggamit sebuah handuk besar dari jemuran. Dilepasnya semua pakaiannya. Aku dipeluknya dan mengecup bibirku. Oh... aku sudah tak tahan menantikan ini. Aku membalas kecupannya dengan hangat. Kami saling memagut. "Oh, sayangku... cintaku..." bisiknya di telingaku. Aku melayang, kata-kata mesra itu. Nafsu membuncah-buncang tak menentu. Aku limbung. Dodi membopongku ke kursi malas. Aku direbahkannya. Mulai Dodi menjilati leherku, mengecup bibirku, menjilati leherku kembali dan terus menjilati buah dadaku. Perutku tak luput dari jilatannya. Kemudian wajahnya sudah berada diantara kedua pahaku. Kedua kakiku sudah mengangkang. Oh... lidah itu, bermain-main di sana. Aku membayangkan lidahnya menari bagaikan penari jaiponngan yang geraknya lincah dan gemulai. "Oh... oh..." kataku tak beraturan. "Aku akan memberikan yang terindah untuk mama," katanya. Kami berpelukan. Kutuntun penisnya yang sudah tegang, keras dan panjang itu memasuki lubang vaginaku. Aku sudah tak tahan. "Ayo, nak... sirami mama, sayang!" kataku tanpa malu lagi. Perlahan Dodi memasuki lubang vaginaku yang sudah basah kuyup. Perlahan penis itu memasukinya sampai semuanya habis. Ujungnya menyentuh-nyentuh pangkal lubang vaginaku yang teramat dalam. Aku benar-benar sudah basah. Basah... Clepp... plok... clepp... plok, suara itu berganti-ganti terdengar dengan irama yang temponya sama. Aku sudah tak mampu menahan nafsuku. Kupeluk Dodi dan menggigit bahunya dengan kuat sembari mendesah. Kujepit pinggangnya dengan kedua kakiku. Aku memeluknya erat sekali. Aku sudah tak mampu menahan nikmatku. Dan aku melepaskan semua yang tertumpah dari tubuhku yang terdalam.Berkali-kali dan berkali-kali, sampai akhirnya aku melepaskan pelukanku dan aku lemas. "Mama sudah sampai?" "Maafkan mama, nak. Mama sudah tak mampu membendungnya..." Aku melihat Dodi sedikit kecewa. Kubiarkan dia terus memompa tubuhku, sampai akhirnya dia melepaskan spermanya dalam lubang vaginaku. Kami bepelukan dan saling mengecup sebagai ucapan sama-sama mengucapkan terima kasih kami. Setelah membersihkan diri, kami duduk di taman kecil itu. Kami menyeruput kopi susu yang masih hangat. Dodi memelukku dari sisi kiriku. Betapa mesranya pelukan itu. Pelukan yang tak pernah aku rasakan dari almarhum suamiku. Kami bercerita tentang sekolah cucuku, seakan tak pernah terjadi apa-apa. Sesekali kami bercerita sembari tertawa kecil. Layaknya dua pasang pengantin remaja yang sedang berbulan madu. Dodi memelukku sembari meraba-raba buah dadaku. Dielusnya buah dadaku dengan lembut. Tak lama tangannya sudah berada di bulu-bulu kemaluanku, sembari lidahnya terus menjilati leherku. Aku tak tahu harus berbuat apa, selain menikmatinya. Kini salah satu ujung jarinya sudah mengelus-elus klitorisku dan aku semakin merasakan nikmatnya. Tubuhku seperti menggigil dan aku merasakan diriku kembali melayang. Kulepas handuk Dodi dan aku menaiki tubuhnya sembari memeluknya. "Kita ulangi, Ma?" katanya lembut seperti mengejekku. "Kamu yang memulai, sayang. Mama sudah basah lagi," kataku. "Mama raihlah dan dan mama masukkan sendiri," katanya lagi seperti mengejekku. Aku tak perduli ejekannya. Kuraba penisnya yang juga sudah mengeras. Kutuntun penis besar, panjang dan keras itu memasuki lubangku. Kutekan tubuhku, agar penis itu benar-benar habis tertelan oleh vaginaku. Oh... penis itu sudah menyentuh bagian dalam vaginaku yang teramat dalam. Bulu-bulu penisnya, seperti mengelitik klitorisku. Aku tak mampu menahan diri. Aku mulai meliuk-liukkan tubuhku mencari kenikmatanku. Dodi mengisa-isap buah dadaku bergantian. Kedua tangannya mengelus-elus tubuhku. Enak saja Dodi mengangkat-angkat tubuhku yang beratku hanya 53 kg sementara Dodi berat tubuhnya berkisat 79 kg. Tubuhnya juga tinggi, berkisar 175 cm sedang aku hanya 55 cm. Aku melingkarkan kedua tanganku di tengkuknya dan merapatkan dadaku ke dadanya. Gesekan pentil tetekku ke dadanya, membuatku semakin merasa nikmat. Sebelah tangannya mengelus-elus duburku dengan lembut. Ah... aku tak mampu lagi mengatakan apa pun, selain mendesah. Kenapa selama ini, aku tak pernah merasakan kenikmatan sex sepertai sekarang ini? Kenapa? Tapi aku tak menyesal. Kini aku menikmatinya saja. Dengan kuat Dodi menekan tubuhku semakin rapat ke tubuhnya dan sebelah tangannya mencengkeram pantatku. "Sayang... ayo cepat, aku sudah mau sampai..." katanya. "Iya, mama juga sudah mau sampai, sayang. Ayo lakukanlah... semprotlah tubuh mama, sayang!" Dodi memelukku semakin erat. Tubuhnya bergetar kuat. Cengkeramannya pada pantatku semakin kuat dan ciumannya pada leherku semakin kuat juga. "Oh, mama. Sejak SMP aku mencintaimu, sayang. Nikmat sekali, sayang!" "Ayolah, Dodi sayang. Puaskan dirimu, Nak. Ayo, Nak. Jangan buat mama gila, sayang..." Ah, aku tak mampu. Tak mampu. Aku melepaskan kenikmatanku. Dodi juga menyemprotkan spermanya ke dalam liangku. Kami benar-benar berpelukan semakin erat dan kuat. Rasanya tubuhku seperti hancur dipeluknya sekuat tenaga. Sampai akhirnya, kami sama-sama melemah. Nafasku terengah-engah. "Mama cantik sekali..." bisiknya. Aku memaksakan senyumku dalam nafasku yang sangat terburu-buru. Dodi mencium keningku dengan lembut. "Aku ingin menikahimu, sayang..." katanya. Aku diam saja. Karena itu tak mungkin sama sekali. Tapi Dodi justru menyelami tanganku dan berkata sendirian, "Kunikahi engkau dengan sepenuh hatiku. Dengan mahar, diriku sendiri," katanya tulus. Aku meneteskan air mata. "Ayo jawab, sayang..." katanya berbisik di telingaku. "Aku terima maharmu dengan tubuhku sendiri," kataku latah. Dodi tersenyum manis dan aku juga tersenyum. Dia membopongku ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Begitu usai membersihkan diri, aku mendengar ada suara bel berbunyi. Pasti cucuku pulang sekolah. Ya ampun, tak sadar sekian jam kami bermesraan di taman belakang. Aku cepat keluar dan memakai kimonoku. Aku buka pintu dan memeluk cucuku. Dodi masih di kamar mandi membersihkan dirinya. *** Selalu saja Dodi hampir keceplosan. Untung orang yang mendengarnya tidak menangkap. "Kita mau makan apa, sayang?" kata Dodi padaku saat kami memasuki restoran. Kalau aku yang mengatakan itu, mungkin orang tak curiga. Tapi jika Dodi yang mengatakan itu, pasti orang tanda tanya. Usia Dodi, separuh dari usiaku. Aku tak mengerti, semangat hidup Dodi semakin meninggi dan dia kerja selalu saja lembur. Uangnya bisa terkumpulkan dengan baik di salah satu bank. Jual beli mobil bekas yang ditekuninya semakin membuahkan hasil. Aku juga demikian, aku selalu siap bekerja menjualkan perhiasan berlian dan berbagai bentuk perhiasan dari emas. Kami maju bersama. Dodi justru sudah memiliki sebuah mobil sedang, walau bekas. Untuk mengatasi kesibukan, kami pun sudah memiliki seorang pembantu. Setelah cucuku pergi sekolah, aku menyarankan kepada pembantu untuk masak apa hari ini. Aku keluar rumah dengan Dodi pukul 09.00 Wib. Setelah mengantarku, Dodi pergi ke tempatnya mangkal untuk mencari mobil atau mencari pembeli mobil. Terkadang dia hanya mendapatkan komisi saja. Hasilnya lumayan banyak. "Ma, Mama aku jemput ya? Aku sudah sangat kepingin. Kita ke hotel," katanya. Jam baru menunjukkan pukul 11 siang. Akhirnya aku setujui, karena sebenarnya sejak tadi malam aku juga sudah menginginkannya. Kami menuju puncak melalui jalan tol. Kami menyewa sebuah kamar di hotel kecil. Setelah mobil masuk ke dalam garasi, pintu garasi langsung kami tutup. Dari pintu kamar depan, seorang pelayan mendatangi kami dan Dodi langsung membayar sewa kamar. Nanti kami tinggal membuka garasi dan langsung pergi pulang. Setelah semua beres dan minuman serta makanan kami pesan dan sudah terhidang di meja kecil, kami menyantapnya dengan lahap di udara yang dingin dalam rinai gerimis. Usai makan, kami langsung mencuci mulut dan menyabun tangan kami di kamar mandi. "Ma, aku sudah gak tahan," katanya merengek, persis rengekan anak SD. Aku tersenyum. Aku langsung membuka pakaianku. Dodi juga menelanjangi dirinya dengan cepat. Blur..!!! Penisnya yang mengeras keluar dan berdiri seperti tiang bendera. Dodi langsung menerkam dan menciumi bibirku. Kami berpelukan dan saling membelai. "Ma, jilatin dong punyaku!" pintanya. Aku menggeleng, karena aku tak mampu. Dodi diam saja dan tersenyum. "Oke, Ma. Kapan-kapan ya. Kalo mama sudah bersedia." katanya. Kini dia menuntunku ke tempat tidur. Aku terbaring di tempat tidur. Dodi menindihku dari samping dan mulai menjilati tubuhku. Remasan pada buah dadaku dan jilatan-jilatannya membuatku selalu saja merasa nikmat. Sekujur tubuhku sudah dijilatinya, sembari mengelus-elusnya. Dodi mengarahkan jilatannya pada vaginaku. Klitorisku menjadi sasarannya. Aku merasakan, ini adalah permainan yang selalu kutunggu. Betapa terkejutnya aku, ketika lidah Dodi mulai menjilati lubang duburku. Ujung lidahnya berputar-putar pada lubang duburku. Aku menggelinjang. "Dodi, jangan, sayang! Jijik, Nak!" kataku sembari menggelinjang. Dodi bukan malah diam, melainkan semakin memutar-mutar lidahnya pada duburku. Aku sudah tak mampu membendung hasratku. Kutarik kepalanya agar dia menindih tubuhku dan menyetubuhiku. Langsung kudekap tubuhnya dan kuarahkan penisnya ke lubang vaginaku. Vaginaku yang basah, langsung menelan penisnya yang besar dan panjang serta keras itu. Aku mulai menggoyang pinggulku dari bawah. Dodi menggenjotku dari atas. Kami terus melakukannya berkisar 12 menit. sampai akhirnya kami sama-sama mendesah dan berpelukan erat. Kami sama-sama sampai pada batas kenikmatan yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Aku membelai rambut Dodi dengan kasih sayang. Kami tidur bersisian sembari berpelukan. *** Kutuang air mineral ke dalam gelas. Kami meminumnya bergantian sampai habis satu botol ukuran sedang. Kami kembali berbaring dan menghela nafas kami. Lima belas menit kemudian, kami sudah kembali segar. Dodi mulai lagi menciumiku. Aku berpikir, anakku tak puas-puasnya kah menyetubuhi diriku? Aku sendiri tak puas-puasnya kah menerima tubuh Dodi yang menggenjot tubuhku? Kami ternyata sama-sama membutuhkan dan kami aman. Karena rahasia dapat kami jaga dengan ketat. Kembali Dodi menjilati lubang duburku dan aku kembali menggelinjang kenikmatan. Dodi memintaku untuk menungging yang katanya gaya anjing. Kami sudah berkali-kali melakukannya dan memnag mendapatkan sensasi yang luar biasa. Aku mengikuti kehendaknya, aku menungging di ujung tempat tidur. Dodi pun kembali menjilati lubang duburku. Sebelah tangannya mengelus-elus klitorisku. Aku merasakan ujung penis Dodi menyentuh lubang duburku. "Dodi, bukan itu lobangnya, sayang!" kataku. "Mama diam saja. Mama Nikmati saja. Nanti rasanya akan nikmat," katanya. Aku membiarkannya. Ujung penis itu dia putar-putar di ujung lubang duburku. Perlahan Dodi menekan penisnya ke dalam duburku. Duburku yang sudah basah oleh ludahnya, terus ditusuknya. Aku merasa sakit. "Sakit, sayang...!" aku merintih. Dodi mendiamkannya sejenak, kemudian menekan kembali. Aku merasakan sesuatu yang sangat berat. Sebelah tangannya terus mengelus-elus klitorisku. Ketika kujamah penisnya, aku yakin, penis itu sudah separoh menembus duburku. Dodi mendiamkanya sejenak, kemudian menembusnya lagi. Kemudian mendiamkannya, lalu menembusnya sampai ketika kuraba, penisnya sudah berada penuh dalam duburku. "Sakit, sayang..." kembali aku merintih. Dodi terus mengelus-elus klitorisku. Aku merasakan nikmat. Saat itu, perlahan Dodi menarik penisnya berkisar sepertiga (mungkin), kemudian dia tusuk kembali. Menarik sedikit dan menusuknya. Begitu seterusnya. "Perih, sayang..." kataku. ”Sebentar, Ma. Ini perawan mama untukku. Setelah terbiasa, nanti mama akan ketagihan," katanya. Aku diam saja. Sampai akhirnya, aku merapatkan kedua kakiku dan aku mulai merasakan kenikmatan. Sepertinya aku sedang memotong-motong tinja yang keluar dari duburku. Dodi meringkih. "Teruskan, Ma. Enak! Teruskan, sayang. Enak, sayang..." desahnya. Aku terusmelakukannya dan aku juga merasakan kenimatan. Sampai akhirnya, aku tidak merasakan perih lagi saat Dodi mempercepat kocokan penisnya di dalam lubang duburku. Aku merasakan nikmat luar biasa. Dodi memeluk erat tubuhku dari belakang dan aku meremas bantal yang mengganjal wajahku. Saat itu Dodi mencabut penisnya dari duburku dan aku merasakan nikmat luar biasa. Kemudian dia mencucukkannya ke lubang vaginaku. Dan croot... croot... croot... Spermanya muncrat memenuhi vaginaku. Kujepit penis itu sekuat tenaga. Aku mengerang kenikmatan. Sampai penis Dodi keluar dengan sendirinya karena sudah mengecil. Aku merebahkan tubuhku. Aku berkeringat. Dodi membelai-belai kepalaku dan menciumi kening dan pipiku. Setelah minum air putih, kami terbaring sejenak. Setelah segar, kami mandi air hangat dan kami bersiap untuk pulang ke rumah. Kami harus tiba di rumah pukul 16.30. karena pembantu akan pulang pukul 17.00. Sepanjang jalan kami tersenyum dan kami bercerita tentang apa saja. Tapi kami tak pernah sepatah katapun bercerita tentang persetubuhan kami. Tak pernah! *** Tak terpikirkan selama ini. Aku dan Dodi terlalu asyik. Sudah sepuluh hari aku terlambat datang bulan. Aku membisikkan kepada Dodi. Dia juga terkejut. Kami singgah di sebuah tempat untuk makan minum pagi itu, walau kami dari rumah sudah sarapan. "Apa yang kita lakukan, sayang? Andaikan UU tidak melarangnya, aku akan menikahi Mama," katanya setengah berbisik. Aku tersenyum. Aku tahu, Dodi sangat menyayangiku. "Mama harus gugurkan, sayang!" kataku berbisik pula. Kulihat wajah Dodi tertunduk lesu. "Kalau saja..." "Ya sudah. Kita harus menjaga keadaan. Kita harus merelakannya untuk dibuang," kataku. Aku ingat seorang teman lima tahun lalu menggugurkan kandunganya dengan ramuan tradisional. Aku menelponnya. Aku mengatakan, kemana aku harus menggugurkan kandunganku? Temanku itu terperanjat. Dia memintaku untuk datang. Aku meminta Dodi untuk mengantarkan aku ke rumah teman akrabku itu. Aku minta Dodi meninggalkan aku, nanti aku akan hubungi dia via HP untuk menjemputku. Dodi setuju. Temanku tak menanyakan dengan siapa aku melakukannya, hingga aku hamil. Dia pasti mengetahui, aku melakukannya dengan seorang laki-laki yang amat kucintai. Karena dia tahu, aku orang yang tidak liar, seperti dirinya. Aku dibawa ke rumah seseorang. Ketika nadiku dipegangnya, orang itu mengetahui kalau aku sudah terlambat haid. ”Ini masih gampang, karena baru beberapa hari,” katanya. Dia mengambil ramuan dari tiga buah topless kaca. Ramuan itu disedu dengan air panas. Setelah suam-suam kuku, aku meminumnya. Kemudian dia memberiku dua sendok makan ramuan itu yang dibungkus pakai kertas. Setiap lima jam harus diminum. ”Besok pagi sudah keluar,” katanya. Aku menjadi tenang. Bayarannya tidak mahal. Hanya Rp. 50.000,- Setelah haid datang, tiga hari kemudian aku disuruhnya untuk kembali datang. Benar sekali. Besok paginya berkisar pukul 07.00 aku sudah haid seperti biasa. Haidku kental dan hitam. Aromanya lebih anyir. Aku melaporkannya kepada Dodi. Dengan lesu Dodi mengecup bibirku sejenak. Wajahnya murung. "Anakku telah terbuang, Ma." "Tak ada jalan lain, sayang," bisikku menenangkan gemuruh dadanya. Aku kembali datang ke rumah pembuat ramuan itu. Dia berkata, sebaiknya aku tidak hamil lagi dan tidak melahirkan lagi, karena usiaku sudah menua. Aku setuju. Dia memberiku ramuan untuk dua minggu. Bulan depan untuk satu mingu dan bulan depannya lagi untuk tiga hari dan seterusnya tiap bulan tiga hari minum ramuannya. Aku setuju. Aku membayar Rp.75.000,- Nanti setiap datang aku akan membayar Rp. 25.000,- Aku setuju. Menurutku sangat manjur dan sangat murah. Dalam perjalanan, kami singgah di sebuah warung kecil agak di sudut. Ada bangku memanjang di bawah sepohon rindang. Di sanalah aku diciumi oleh Dodi. Dia mengelus-elusku. "Tunggu sampai kering, sayang. Tiga hari lagi, kita sudah bisa mulai," kataku menyabarkannya. Malamnya, di rumah, setelah cucuku tidur, dia dimasukkan ke dalam boxnya di kamarku. Kali ini Dodi tak mau tidur di kamarnya. Dia menemani aku tidur di kamarku. Dengan telaten, dia mengganti pembalutku. Aku risih sebenarnya, tapi Dodi memaksa. "Sayang, aku sangat mencintaimu. Izinkan aku mengurusmu," katanya lembut. Aku pun tersanjung sekali. "Aku sudah tak tahan, sayang..." bisiknya. "Bagaimana, kan masih belum kering?" kataku. Akhirnya kami sepakat, kami harus pindah kamar ke kamarnya. Aku memberinya lotion. Aku mengelus-eluskan lotion itu ke batang penisnya, lalu ke lubang duburku. Aku menungging dan perlahan Dodi menusukku dari belakang. Licin dan tak perih lagi seperti pertama kali. Kocokannya semakin cepat dan cepat. Aku merasakan darah haidku berdesir-desir membanjir dari vaginaku. Aku merasakan nikmatnya. Kami pun terus melakukannya sampai kami merasakan puncak nikmat yang luar biasa. Hanya lima menit kami istirahat. Dodi membopongku ke toilet. Kami membersihkan diri. Aku mengganti pembalutku. Dibopongnya aku kembali ke kamar tidurku. Aku melihat cucuku tertidur dengan pulasnya. Dodi tidur di sisiku malam itu, Kami berpelukan dan saling membelai. Akhirnya, setelah menjelang subuh, kami belum juga memejamkan mata. Kami tak bersuara sedikitpun. Hanya nafas kami yang mendesah-desah dan tangan kami saling mengelus-elus. "Sayang, aku mencintaimu!" bisik Dodi ke telingaku. "Mama juga mencintaimu, Nak..." "Aku kepingin lagi, Ma!” "Tak puas-puasnya kah, sayang?" "Aku kepingin, Ma..." Aku bangkit. Kubuka celana pendeknya. Kukeluarkan penisnya. Aku mengelus-elusnya. Perlahan aku memberanikan diri untuk menjilati batang penis yang besar itu. Aku memulainya dari bawah, ke ujung dan memutar-mutar lidahku pada ujung penisnya sebelah bawah. Perlahan aku memasukkannya ke dalam mulutku. "Sayang, jagan kena giginya dong. Sakit!" bisik Dodi. Aku menyadarinya. Aku mulai perlahan mengulumnya dan memasukkannya ke dalam mulutku. Aku merasakan Dodi menjepit kepalaku dengan kedua pahanya dan menjambak-jambak kecil rambutku. sampai pada pucaknya, Dodi menusukkan penisnya sedalam-dalamnya ke rongga mulutku dan dia melepaskan sperma di dalam rongga tenggorokanku. Setidanya tiga kali. Kepalaku ditariknya kuat-kuat dan penisnya terbenam di dalam. Aku seperti susah bernafas. Tak lama, penis itu mengecil dan Dodi melepas kepalaku. "Terima kasih, Ma," bisiknya. Aku tersenyum. Aku telah memberikan kepuasan kepadanya. Aku lupa kalau hari ini Senin. Kami melakukannya setiap Senin, Rabu dan Sabtu. Jatah itu sudah kami atur. Kecuali kalau terkadang Dodi benar-benar kebelet atau aku yang kebelet minta disetubuhi. Setelah meminum ramuan jamu, kami menjadi aman. Aku tak pernah hamil. Kini usiaku sudah 49 tahun. Sudah tujuh tahun lebih kami melakukan persetubuhan dengan rahasia yang ketat. Kami tak pernah bosan. Like· · Share Top Comments Siluman Kegelapan, Aryo Sayank Kamoe, Joko Siswanto Jenengq and 462 others like this. 23 shares Write a comment... View previous comments Mey Lau Manusia ngak ada otak kalo ml sma mama kandungnya sdri. Like · Reply · 20 · December 6, 2014 at 1:13pm 3 Replies Safira Aurelia Putri Add Aku Ya Like · Reply · 10 · December 22, 2014 at 5:06am Safira Aurelia Putri Add Aku Ya Add Aku Ya Like · Reply· 7 · December 22, 2014 at 5:06am Rara Karima gak genah mending main ma suami Like · Reply · 7 · December 12, 2014 at 3:04am 3 Replies Indri Lestari Add Me Like · Reply · 6 · December 20, 2014 at 11:02pm Dhian Putry Adeliarazthainvte pin baru tmand aq, 25af59a9, ngak invte nyesel, promotin jg yeach.. Like · Reply · 5 · December 17, 2014 at 6:35pm Andre Simanjorang Boleh gak? Like · December 31, 2014 at 10:53pm Write a reply... Diah Widia Hutasoit Baca semuanya jdi pngen ni Like · Reply · 4 · January 1 at 6:40am 6 Replies Tante invet yah cewe sex pin 2aef5779 Like · Reply · 4 · December 24, 2014 at 1:53pm Andy Syah Syah Wat ibu" xg sange...081269209644...tlpn y. Like· Reply· 9 · December 7, 2014 at 7:30am 4 Replies Uchy Englandmuse Virginitymrzfollevell Ada yg mau lesbby gak ,, brapa pun saya bayar ,,, Like· Reply · 3 · December 13, 2014 at 1:31am 4 Replies Alisa Eci Prillia Pengalaman ngentot Like · Reply· 2· January 1 at 4:19am Ardi Dwi Yudhantoro Buat yg serius aja ! Saya duda cari teman phone seks. Cewek yg mau ditransfer pulsa 25-50 ribu silahkan inbox no hp & temani saya ps. Rahasia dijamin aman. Kusus XL, Telkomsel & Indosat. Like · Reply · 2 · December 22, 2014 at 7:09am Piqimons Eter kluarga kambing! Like · Reply · 2· December 9, 2014 at 9:05am Wanita Indonesia - Khusus 18+ khusus dewasa 18+ silah kan gabung dapatkan pasangan kencan anda di sini!!! semua wanita Indonesia yang binal dan nakal!! Like · Reply· 1 · Yesterday at 12:33pm Princess Sangek 5291fb98 Like · Reply · 1 · January 2 at 10:29am Adji NanoNano 089636540848 gue Like · Reply · 1 · December 13, 2014 at 12:40am Aziz Waelahbajingan Like · Reply · 1 · December 12, 2014 at 9:41pm Muhammad Erik Muliady add me atau 26CA4EFC area pekanbaru Like· Reply · 1 · December 12, 2014 at 1:34am Senandung Jq gila anak sama mama sama aja nanti lanjut di neraka biar lebih hot yy Like · Reply · 1 · December 11, 2014 at 10:54am Sthu Putra Bungsu Mata kluarga asu Like · Reply · 1· December 10, 2014 at 11:59pm RenDra Saputra brapa bayaran satu mlm Like · Reply · 1 · November 26, 2014 at 12:51pm Brandall Ibliss Kecill Manjha 3096F605 PNGEN Like · Reply· 3 · December 31, 2014 at 4:44am Rusdi Mamipegen cobaaaaaa Like · Reply · 17 hrs Rian Nova Aprianto Ada mau ma sya gag. Msih prjka nhi.. Like · Reply · Yesterday at 1:13pm Reog Putra Mama sma anak sma" gilany dan tdak taw diri Like · Reply · Yesterday at 11:40am Andre Baster's gila bgt ceritanya. Like · Reply · Yesterday at 8:52am Heru Agus5197E485 Like · Reply · Yesterday at 8:05am 2 Replies Rizal Satria Perdana add me anak bandung 2612A5BE Like · Reply · January 3 at 9:33am Gede Juni Aduh enaknya kalo aqku bisa ngajak tante sprti iitu Like · Reply · January 3 at 9:07am Darwis Hura Hura yang mau invite pin q ya buat seneng seneng via BBM, rahasia terjamin, 2a32059c Like· Reply · January 2 at 9:58pm Alex Sange add me girlll salam crootttt Like · Reply · January 2 at 6:00pm AmouraKinzy Septiansyah Ayu 5258E2A6 temen gua suka di ajak ngentot , toket ga terlalu gede tapi seneng di entot , kalo mau invite aja gratis sama dia .. Khusus daerah jakarta timur aja yaaa Like· Reply· January 2 at 11:33am Hendry Syahputraperbuatan dosa yg sangat terlarang Like· Reply · December 31, 2014 at 3:31pm Putra Sang Pengembara Add me Like· Reply · December 30, 2014 at 11:01pm Budi Satria SantosoApa iya Like· Reply · December 29, 2014 at 7:42am Amir Nursultoni 089665167177, ku tunggu sayang Like· Reply· December 29, 2014 at 2:46am Arya Kamandanumancaap...ilusinya Like · Reply· December 28, 2014 at 5:30pm Jurang Arungmudah2han ke dua pelakun dn pengarang cerita ini masuk neraka Like· Reply · December 26, 2014 at 10:53pm Laka AraneBuat cewe2 yg lagi sange atau pngen ML bsa call me or invite gue. 087888250241 / 23254833 gue masih perjaka asli 100% Like · Reply · December 25, 2014 at 2:29pm Boby Sr. boro ,boro sange Like· Reply· December 24, 2014 at 3:42pm Choizt Boedaxs Cirebon089652982741 Like· Reply · December 23, 2014 at 11:50pm Cari Istri Yg SetiaAddme yg mw ps 7eb5c472See Translation Like· Reply· December 23, 2014 at 7:53pm Rasya Riski AndinanWow Like · Reply · December 23, 2014 at 7:43pm Zakie Ismaya Asiikkk Like· Reply· December 23, 2014 at 12:09pm Uchy Englandmuse VirginitymrzfollevellHhaaa Like · Reply· December 22, 2014 at 4:40pm Wawan Hermawan Suwandi 7ff59b4d cwo 26 thn. buat wanita yg serius aja yg bs diajak ktemuan n jln2 Like· Reply· December 21, 2014 at 11:11pm Arjuna Putra Jingga Saya gigolo melayani semua wanita dan pasutri. Bersih, jaga privacy, sabar, sopan, hangat, sawo matang, cakep, atletis, multi...See More Like · Reply · December 21, 2014 at 9:00pm Rita MaryamCapsa susun pertama kalinya di INDONESIA Betting LewaT INTERNET.. Fair Play NO BOT(robot) DAFTARKAN DI SINI MARI BERGABUNG ...MAU DAFTAR KLIK LINK DI BAWAH INI...See More Agen Judi Capsa Online Aman & Terpercaya HOKICAPSA.com Adalah Agen Judi Capsa Susun... hokicapsa.com Like · Reply· December 21, 2014 at 1:20pm 49 of 88 View more comments Cerita Sex November 23, 2014 · Ruang Ganti Kolam Nama saya Frans (samaran), dan saya adalah mahasiswa semester 5 di salah satu universitas katolik swasta di bilangan Jakarta Selatan, dan apa yang akan saya ceritakan disini adalah kisah yang terjadi sekitar satu tahun lalu. Di kampus saya, terdapat banyak sekali Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yaitu wadah untuk menyalurkan bakat dan hobi seperti UKM sepakbola, UKM Voli, musik, dll. Salah satu UKM yang menarik perhatian saya adalah UKM Renang dan Selam. Hal ini bukanlah dikarenakan saya hobi ataupun jago dalam berenang, tetapi semata-mata karena faktor cewek-cewek yang tergabung dalam UKM ini. Bukan merupakan rahasia di kampus bahwa salah satu UKM yang paling diminati oleh mahasiswi-mahasiswi adalah UKM renang, dan itu adalah merupakan satu-satunya alasan saya untuk bergabung dengan UKM ini. Setelah bergabung dengan UKM ini (saat itu saya di semester 3) dan sebagai anggota baru, saya wajib mengikuti acara konsolidasi/perkenalan baik dengan senior-senior maupun dengan sesama anggota baru. Acara ini merupakan agenda tahunan UKM ini dan untuk kali ini, acara akan dilakukan di daerah Pantai Carita. Kebetulan pula saya ditunjuk sebagai anggota panitia bersama dengan sekitar 10 anggota-anggota baru lainnya (4 cowok dan 6 cewek). Jum'at, Jam 10.42 "Frans, Dewi nih..", bunyi suara di HP ku. "Oh, Dew, napa nih?", tanyaku. "Gue mo nanya, loe pasti nggak ikut berangkat buat acara survei lusa?" "Hmm.. jadi sih, tapi pakai mobil siapa, soalnya mobil gue dipake bokap" "Iya gue tau, makanya gue udah nanya si Bobo, dia bilang bisa kok pake mobilnya" "Ya udah kalo gitu, tapi selain elo ama gue, sapa lagi yang ikutan?" "Selain lu ama gue, yang ikut nanti Siska dan Lia, total 5 orang" jawab Dewi. Mulutku rasanya ingin berteriak senang waktu mendengar jawaban Dewi, langsung terbayang olehku Siska dan Lia yang walaupun keduanya tidaklah begitu cantik, tapi dengan kulit putih bersih dan dada yang montok dan aduhai itu membuatku tidak sabar untuk menanti tibanya hari Minggu. "Oke deh Dewi, beres kalau begitu, See you Sunday then.." "Pokoknya lu jangan telat yah, berangkatnya dari kampus Jam 7 pagi. Daag..", katanya lagi menutup pembicaraan. Minggu, Jam 7.20 "Gila lu, dasar tukang ngaret!", cerca Dewi dan Lia hampir bersamaan. "Sorry.. sorry.. temanku yang cantik, gue nunggu bis lama banget tadi", jawabku membela diri. "Ya udah deh, langsung cabut yuk!", ajak Bobo dari balik setir mobil Honda CRV hitamnya. "Frans loe ditengah aja yah, gue ama Siska mau di tepi aja, mau liat pemandangan alam", pinta Lia yang turun agar aku bisa masuk ke mobil. "Siap komandan!", jawabku sambil masuk ke dalam mobil dan langsung kuhempaskan pantatku ke jok mobil di sebelah Siska yang duduk persis di belakang Bobo. "Berangkat Pak!", seru Dewi dari sebelah Bobo di depan. "Sialan loe, emang gue supir?" Jam 8.25 "Wah..katanya mau liatin pemandangan, kok malah tidur sih?", tanyaku pada Siska. "Habis lama banget sih belum nyampe-nyampe juga" "Supirnya payah nih", Lia menimpali sambil tertawa. Aku dan Siska ikut tertawa mendengar canda Lia. Diam-diam kuperhatikan Siska di sampingku. Baju ketat warna putihnya membuat dadanya yang montok tercetak dengan sangat jelas dan sepertinya hendak meronta keluar dari balik bajunya. Celana jeans nya yang hanya sepaha juga membuat aku menelan air liurku beberapa kali dan hanya bisa membayangkan betapa nikmatnya bila tanganku dapat membelai paha mulusnya itu. Jam 9.52 "Akhirnya tiba juga..", teriak Bobo membangunkan seluruh penumpang mobil. "Bangun.. bangun..!", teriakku sambil menepuk pundak Siska dan Lia yang dari tadi terlelap. Jam 10.17 Setelah selesai membereskan urusan administrasi dengan pemilik villa untuk pemakaian villa selama 3 hari untuk Minggu depan, aku menyempatkan diri untuk jalan-jalan di sekitar villa. Tempat yang cukup indah dengan taman yang luas, kolam renang yang bersih dan area villa sendiri yang tertutup oleh pagar tinggi sehingga dapat menutupi pandangan dari luar. "Eh, berenang yuk..!!", tiba-tiba terdengar suara Dewi. "Siska dan Lia udah di kolam renang tuh", timpalnya lagi. "Bobo mana?", tanyaku sambil melongok ke arah dalam. "Wah.. si gendut itu mah langsung aja molor pas ngeliat ranjang..", jawab Dewi sambil berlari kecil ke arah kolam renang yang terletak di belakang villa. Segera saja aku mengganti pakaianku dengan celana renangku, dan dengan melilitkan handuk kecilku di pundak, aku segera saja menyusul cewek-cewek tersebuat ke kolam renang. Sesampaiku di kolam renang, kulihat Dewi dan Lia sedang berenang dengan asyiknya sementara Siska tiduran di kursi panjang di tepi kolam. Aku terkesiap melihat busana renang Siska dan Lia yang lebih tepat disebut bikini karena hanya terdiri dari sepotong BH dan celana dalam yang tipis dan mungil dan menyerupai g-string saja. Aku segera saja duduk di kursi yang terletak di sebelah Siska, sementara Dewi dan Lia masih asyik berenang, aku manfaatkan kesempatan ini untuk menikmati indahnya tubuh Siska dari balik kacamata hitamku. Dari lirikkan mataku, aku dapat melihat dengan jelas dada montok yang menonjol dengan indahnya. BH kecil itu seperti tidak dapat menutupi seluruh daerah payudaranya sehingga dari tepi BH itu dapat kulihat dengan jelas dadanya yang putih dan membuat penisku berdiri di balik celanaku. segera saja kututupi dengan handuk kecil yang kubawa. "Loe berdua ikutan gabung dong..! Airnya hangat nih..!", teriak Lia dari dalam kolam. Tanpa kusangka Siska segera berdiri dan langsung saja meloncat ke dalam kolam renang. Aku tak mau ketinggalan, dan dengan penisku yang masih berdiri dengan cuek aku juga segera meloncat ke dalam kolam. "Main polo air yuk, 2 lawan 2 kan pas nih", seru Dewi yang tak tau dari mana sudah memegang bola plastik di tangannya. "Ayuk.. gue pasangan ama Frans deh!", timpal Lia dengan cepat. "Deal..!", kata Siska dan Dewi hampir bersamaan. Singkat kata, acara main polo air itu membuat tanganku beberapa kali entah dengan sengaja ataupun tidak menyentuh dada, badan, maupun paha cewek-cewek itu ketika berebut bola dalam air. Penisku yang tegang itu juga beberapa kali bersentuhan bahkan kadang-kadang berhimpitan dengan badan mereka sewaktu saling berebut bola maupun ketika aku 'dikeroyok' oleh mereka. Kira-kira setengah jam kemudian, permainan pun berakhir karena kami semua capek, dan hanya duduk-duduk saja di pinggir kolam renang. Bikini yang basah membuat lekukan tubuh mereka terpampang dengan jelas di depan mataku. Terutama Siska dan Lia yang lebih 'berani' dalam memakai bikini yang tipis dan kecil dibanding Dewi yang memakai baju renang yang standar. Mataku seperti tak mau lepas dari dada Siska dan Lia yang sangat montok itu, entah sadar ataupun tidak bahwa puting susu mereka tercetak dengan jelas pula. Mataku bergantian menyusuri dada mereka satu persatu, kemudian turun ke daerah selangkangan mereka dimana dapat pula kulihat belahan vagina Siska dari balik g-string nya yang tipis itu. Penisku seperti hendak bersorak kegirangan menyaksikan pemandangan indah itu. Cewek-cewek ini sangat 'berani' mempertunjukkan tubuh mereka di depan laki-laki sepertiku, bahkan beberapa kali Lia berjalan mondar-mandir di depanku yang duduk untuk sekedar mengambil lotion ataupun handuk yang diletakkan di sampingku. Dari posisi dudukku yang tepat di hadapan Lia yang sedang berdiri, sangat jelas pula pantatnya yang besar itu seperti menantikan penisku untuk dapat 'masuk' dan menari-nari di dalamnya. Benar-benar merupakan penderitaan bagiku karena penisku yang tegak berdiri terus rasanya seperti terjepit dalam celana renangku yang ketat. Jam 11.13 "Udahan ah.. tempat bilasnya dimana sih?", tanya Siska sambil bangkit berdiri. "Right behind you dear..", jawab Dewi sambil menunjuk ke arah belakangku. "Ikutan dong..", timpal Lia pula sambil langsung berjalan menuju ke tempat yang ditunjuk oleh Dewi. "Lu nggak mau ikutan Frans?", tanya Dewi kepadaku. "Kamar mandinya ada dua kok.", tambahnya. Aku tersenyum kepadanya dan tanpa menjawabnya lagi, aku segera bangkit berdiri dan berjalan ke ruang bilas menyusul cewek-cewek tersebut. "Wah.. tempatnya cuma ada dua Frans, ya udah deh.. gue joinan ama Lia aja deh..", kata Siska kepadaku ketika melihatku masuk. "Ya udah..", sambil ngeloyor masuk ke ruang ganti yang terletak persis di sebelah ruang yang dipakai Lia dan Siska. Ruang ganti itu sendiri merupakan tempat yang dibuat ala kadarnya mengingat dinding pambatasnya yang hanya dari triplek tipis bahkan di beberapa bagiannya sudah berlovbang kecil. Mungkin karena rayap yang menggerogotinya. Instingku sebagai laki-laki segera menuntun mataku untuk mengintip dari balik lubang kecil itu. Setelah menyesuaikan dengan arah pandangan yang terbatas, penisku kembali tegang ketika mataku mendapatkan sesosok tubuh yang kini tanpa ditutupi oleh BH lagi. Aku tidak dapat mengenali apakah itu Siska ataupun dada Lia karena sama-sama besar dan montok. Apa yang aku tau adalah sepasang payudara yang bergoyang dengan indahnya ke kiri dan ke kanan ketika digosok oleh tangan yang menyabuninya. Tanganku segera saja melepaskan celana renangku dan penisku yang sedari tadi telah menegang dengan hebat segera menyembul bebas. Tanpa pikir panjang lagi aku segera menggenggam batangan itu dengan tangan kiriku dan mengocoknya dengan pelan sambil tetap mengikuti gerakan payudara yang sesekali bergantung dengan indahnya ketika pemiliknya membungkuk untuk mengambil sesuatu. Pentil susu coklat muda yang lumayan besar itupun membuat kocokanku pada penis semakin kuat.Apalagi ketika jari-jari mungil itu memilin dan menarik dengan pelan puting-puting itu, semakin membuat jantungku berdebar dengan kencang dan bergantian tangan kiri dan kananku menjalankan tugas mengocok penisku. "Loe ngapain sih mencet-mencet puting sendiri?", suara Lia yang bertanya ke Siska hampir saja membuat jantungku copot karena kaget. Sekarang aku tahu bahwa susu yang mataku nikmati dari tadi adalah kepunyaan Siska. "Iseng doang..", jawab Siska dengan nada suara yang cuek. "Gila lu.. ntar malah terangsang lagi..", sahut Lia sambil tertawa. "Kalo itu sih dari tadi juga udah. Liat aja nih udah mengeras begini.." Suara tawa segera pecah dalam ruang ganti itu. Sementara itu fantasiku semakin jauh mendengar kata-kata Siska barusan. Mataku yang masih mendapati puting-puting yang dipencet, dipilin memutar dan di tarik-tarik dengan pelan itu semakin membuat gemuruh nafasku kian memburu dan tak beraturan. KupeJamkan mataku sambil membayangkan rasanya kalau saja penisku menerobos ke dalam vagina Siska sambil tanganku meremas-remas susu montok itu.Kubayangkan pula lidahku yang menari-nari di puting susunya.. menjilati tubuhnya yang putih dan mulus.. memagut bibirnya sambil terus menggoyangkan penisku di selangkangannya. Imajinasiku pun berjalan terus bahkan sepertinya dapat kudengar suara erangannya ketika dia duduk diatas perutku dalam keadaan penisku masih tertancap dalam vaginanya. Kubayangkan goyangan pinggulnya yang melawan hentakan penisku yang naik turun dalam vaginanya yang rapat itu. Kocokan yang semakin hebat oleh tangan kananku membuat penisku yang telah memerah itu akhirnya tak tahan lagi dan dengan derasnya kutembakkan spermaku ke dinding ruang bilas itu. Sekitar 5-6 tembakan lahar panas yang kumuntahkan membuatku terkulai lemas dan hanya dapat menyandarkan kepalaku ke dinding sambil tetap mengintip lewat lubang kecil itu. Payudara mulus Siska beserta puting susunya yang telah selesai dibilas dari sabun serta canda tawa Lia dan Siska yang masih berlangsung membuat jantungku yang berdegub kencang apalagi setelah ejakulasi barusan.. pelan-pelan aku berdiri dan kemudian membilas tubuh serta 'pistolku' yang kini terkulai lemas.. Dalam hati aku tetap berharap suatu saat nanti aku semua imajinasi dan fantasiku tentang Siska dapat terwujud. "Yah.. kalau nggak dapet Siska.. Lia juga nggak apa-apa..", pikirku dalam hati. "Frans.. lama banget sih.. gantian dong", teriak Dewi dari luar membuatku segera tersadar dari lamunanku dan cepat-cepat membilas tubuhku dan keluar dari ruang bilas itu. Mimik heran dari Dewi ketika melihatku keluar dari ruang bilas dengan muka lemas tidak aku pedulikan dan sambil berjalan menuju ke villa kembali pikiranku melayang-layang dan membayangkan susu dan puting Siska tadi. Aku tersenyum sendiri dan tetap akan berpegang teguh pada pandanganku bahwa selama cewek itu mempunyai dada besar dan montok, maka dapat dipastikan aku akan selalu berfantasi tentang dia sewaktu onani. Dimanapun dan kapanpun karena memang seleraku adalah wanita-wanita yang 'tege' (tetek gede) seperti mereka berdua..


Share On Facebook
Share On Twitter

Kategori: Cerita Saru Mahasiswi, Cerita Ngocok Masturbasi,
Label: masturbasi mahasiswi

Belum ada komentar